WHAT'S NEW?
Loading...

Belajar dari Semut, Lebah/Tawon dan Laba-Laba


"Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah"
Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur'an. An Naml [semut], Al 'Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].

Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha - dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

Lain lagi uraian Al-Qur'an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [ Al 'Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur'an - "atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal" [ An Nahl;16:68].
Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yg sangat manfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya 'semut'. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya 'semut' adalah budaya 'aji mumpung'. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya. Entah berapa banyak juga tipe 'laba-laba' yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir:
"Siapa yang dapat dijadikan mangsa"
Nabi Shalalahu 'Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai 'lebah'. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : "Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya"

Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!

Dari Lentera Hati - M. Quraish Shihab
hasil dari mengikuti milist yahoo Daarut Tauhid

Belajar dari ikan


(belajar dari ikan) Tetaplah menjadi orang baik. Seperti ikan di laut. Meski lingkungan sekelilingnya terasa asin, tetapi daging ikan tidak ikut-ikutan menjadi asin. Meski di sekitar kita ada orang-orang yang tidak jujur, tapi itu tidak berarti kita harus ikut-ikutan menjadi orang yang juga tidak jujur. Mungkin tubuh kita tidak ikut menjadi ‘asin’. Tetapi otak kita sibuk memikirkannya. Hati kita juga sibuk menghujat; ‘mengapa orang macam itu yang mendapatkan kesempatan?’. Hal itu menandakan jika kita terpengaruh oleh ketidakjujuran orang lain. Mendingan Anda fokus saja untuk tetap menjaga nilai-nilai kejujuran Anda. Tidak perlu ikut campur. Kecuali jika Anda mampu ‘mengambil tindakan’ untuk menghentikan ketidakjujuran orang itu. Jika tidak memiliki kemampuan itu, sebaiknya Anda tidak membuang waktu dan energy dengan pikiran dan perasaan negatif yang ditimbulkan oleh ketidakjujuran orang lain. Cukuplah dengan tidak mengikuti perilaku buruk mereka.
Sehingga kita bisa tetap menjadi orang baik.

ibroh ini hasil cuplikan tulisan Dadang Kadarusman "Benarkah Karir Orang Jujur Sering Terhambat"

Menghilangkan Noda BAB/pup bayi

Menghilangkan noda BAB(buang air besar)/pup bayi baik pada popok maupun celana bisa dibilang gampang-gampang susah. sebaiknya kenali dulu jenis kain yang terkena noda BAB(buang air besar) ini:

  • Kain yang tipis, noda BAB pada kain ini sangat mudah untuk dibersihkan
  • Kain yang tebal/seratnya rapat, noda BAB akan sulit hilang biasanya akan meninggalkan noda kekuningan pada kain, rona kekuningan ini akan hilang jika kain sudah kering
Cara menghilangkan noda BAB pada kain (popok, baju, celana, baju dalam)
  1. sikat noda BAB sambil diberi air mengalir (kran), untuk kain yang tipis pada tahap ini tanpa sabun-pun noda sudah bisa bersih, untuk kain yang seratnya rapat cukup hilangkan noda BAB nya saja
  2. rona kekuningan yang masih tertinggal bisa dihilangkan dengan cara memberikan sabun colek seperlunya, sikat hingga rona kekuningan hampir hilang (karena tidak bisa benar-benar hilang)
  3. bilas kain yang terkena noda BAB dengan air bersih 2 - 3 kali untuk menghilangkan noda dan busa sabun coleknya
  4. bilamana perlu rendam dengan menggunakan pewangi
  5. keringkan, insyaAllah setelah kering rona kekuningan yang tertinggal akan hilang
Perlu diketahui:
  1. tidak perlu direndam terlalu lama ini akan mengakibatkan timbulnya bau yang menyengat yang menyebar merata ke seluruh kain
  2. jangan terlalu kuat menyikat, hal ini akan merusak serat kain
  3. yakinlah noda BAB.nya bisa hilang :-)
sekian tips dari kami forfatih, berdasarkan pengalaman pribadi :-)
kalau info ini berguna silahkan share dengan tanpa menghilangkan penulis dan menyertakan link sumbernya, terima kasih

Menyikapi Para Pembajak Gagasan


Artikel: Menyikapi Para Pembajak Gagasan  - Adakah hal lain yang bisa membuat Anda kesal melebihi kekesalan saat Anda mengetahui jika orang lain telah mengambil sesuatu yang menjadi hak Anda? Tentu Anda tidak diam saja saat mengetahui sepeda motor Anda yang hilang itu ternyata diambil oleh seseorang yang Anda kenal, misalnya. Hal itu tidak hanya berlaku untuk benda kasat mata. Di kantor, tidak mudah untuk menerima kenyataan teman Anda telah ‘membajak’ ide jenius Anda lalu mengklaimnya seolah itu miliknya sendiri. Orang itu mendapatkan semua kreditnya, sedangkan sebagai originator, Anda tidak mendapatkan apa-apa. Jika yang diambil orang lain itu barang atau benda fisik, Anda bisa mengambilnya lagi. Tapi, jika yang direnggut dari Anda adalah hasil pemikiran, gagasan, dan ide-ide cemerlang Anda; apa yang akan Anda lakukan?

Ada banyak orang yang kehilangan gairah ditempat kerjanya. Padahal, sebelumnya mereka adalah orang-orang pilihan yang mempunyai kapasitas dan pencapaian tinggi. Mengapa mereka berubah menjadi seperti lampu cempor yang nyaris kehabisan minyak? Ternyata salah satu penyebabnya adalah rasa kecewa karena hasil kerja kerasnya diklaim dan dinikmati oleh orang lain. Mereka kehilangan motivasi hingga tidak lagi berhasrat untuk menujukkan keunggulan dirinya. Bahkan, tak jarang yang akhirnya menjadi karyawan under-performed. Saya tidak akan mengajak Anda belajar bagaimana caranya ‘Berhenti Membajak Gagasan Orang Lain!’ karena Anda bukan orang tipe seperti itu. Tapi, boleh jadi Anda pernah atau berpeluang menjadi korban pembajakan yang dilakukan oleh orang lain. Maka penting untuk belajar menghadapi situasi seperti itu, agar tidak sampai berpengaruh buruk kepada kesehatan mental kita.  Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengatasi pembajakan gagasan
yang dilakukan oleh orang lain, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:

1.      Yakinlah jika pahala tidak pernah tertukar. Anda percaya Tuhan? Thank God. Iman adalah sistem akuntasi paling akurat atas semua investasi, biaya, dan rugi-laba yang kita lakukan seumur hidup. Setiap kinerja atau perilaku baik Anda di kantor – jika diniatkan dengan iman – dicatat dalam kolom ’Investasi’. Setiap perilaku buruk Anda, masuk ke kolom ’Biaya’. Sedangkan selisih antara perilaku baik dengan perilaku buruk akan menghasilkan laporan ’rugi-laba’ akhirat Anda. Maka mudah untuk mengetahui apakah Anda termasuk orang yang bangkrut? Atau yang untung? Tinggal introspeksi saja; apakah perilaku baik Anda lebih banyak dari perilaku buruk yang Anda lakukan? Dengan iman, Anda percaya bahwa gaji atau bonus bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan seorang profesional. Iman mengajarkan bahwa semua perbuatan memiliki perhitungannya. Maka logis jika pahala Anda tetap tecatat, meskipun orang lain berhasil membajak hasil kerja dan jerih payah Anda. Mungkin, Anda kehilangan kredit berupa pujiannya. Namun Anda tetap mendapatkan pahalanya. Mengapa? Karena pembukuan Tuhan tidak pernah keliru mencatatkan pahala dan dosa setiap hambanya. Di kantor? Dimana saja.

2.      Tebarlah manfaat, bukan sibuk mencari nama. Telinga Anda panas mendengar orang seisi kantor memuja muji seseorang yang telah membajak gagasan Anda. Wajar jika Anda merasa demikian. Tetapi, jangan sampai terjebak dalam arena kecil bernama; ‘kontes popularitas’. Mengapa? Bagi orang-orang picik kontes itu hanya akan menyeretnya kepada sifat ‘melakukan segala cara’ untuk melambungkan namanya. Bagi orang hebat seperti Anda, kontes itu akan secara halus memprovokasi agar Anda menghabiskan waktu dan energy untuk menunjukkan bahwa nama Anda lebih berhak untuk disebut-sebut. Padahal, popularitas Anda hanya berguna didunia. Sedangkan yang Anda bawa pulang ke akhirat adalah semua manfaat yang sempat Anda berikan. Percayalah, jika Anda bisa memberi lebih banyak manfaat kepada orang lain, maka Anda tidak perlu membuktikan apapun kepada mereka. Jadi, mulai sekarang mari kita kurangi kegandrungan diri kita untuk mengibarkan bendera bertuliskan nama kita. Sebaliknya, kita sibukkan diri untuk menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Jika dengan manfaat itu nama kita menjadi dikenal, Alhamdulillah. Jika tidak, ya Alhamdulillah juga. Kenapa? Karena dengan menjadi orang yang tidak dikenal itu, kita terbebas dari sifat riyya, alias mabuk pujian.  

3.      Berterimakasihlah kepada sang pembajak. Fakta bahwa para pembajak gagasan itu lebih mampu untuk ’menjualnya’ daripada Anda adalah sesuatu yang tidak terbantahkan. Mereka bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa Anda lakukan. Misalnya, mereka bisa meyakinkan managemen hingga menerima gagasan itu. Atau, mereka bisa ’menggembar-gemborkan’ gagasan itu hingga menjadi buah bibir. Atau, mereka mampu menampilkan gagasan itu sehingga semua orang mengetahuinya. Sementara Anda, mungkin hanya bisa membuatnya tanpa tahu bagaimana cara mempublikasikannya. Atau, mungkin Anda gemetaran saat berbicara didalam rapat dengan senior managemen. Sekarang, bagaimana kalau Anda jabat erat tangan orang itu lalu katakan;”Terimakasih Pak. Bapak telah membantu saya untuk menjadikan gagasan yang saya buat itu menjadi kenyataan.....” Lantas rasakanlah energi positif yang sekarang memenuhi setiap ruang sel-sel tubuh Anda. Bagaimana pun juga, orang itu telah  menjadi jalan agar gagasan Anda diterima publik. Bisa diimplementasikan. Dan karenanya, bisa memberi manfaat kepada orang banyak. Bisa jadi, Anda tidak akan mampu mewujudkannya sendiri. Tetapi, orang yang kita vonis sebagai pembajak itu punya kemampuan yang tidak kita miliki. Maka, berterimakasihlah padanya.

4.      Teruslah melahirkan karya-karya terbaik. Kebanyakan orang yang kecewa memutuskan untuk berhenti berkarya. Sakit hatinya karena seseorang telah dengan mudahnya memetik buah dari tanaman yang telah dirawatnya sejak masih berupa biji-bijian. Bagaikan petani yang menanam benih mangga, lalu merawatnya hingga berbuah, kemudian seseorang memetik buah itu dengan hati kaku sedingin es batu. Petani itu boleh berhenti menanam mangga. Tapi, dia juga boleh memilih untuk menanam pohon lebih banyak lagi. Baik jumlahnya, maupun jenisnya. Sekarang, dikebunnya terdapat sedemikian banyaknya. Jika sudah begitu, apakah perut sang pembajak masih sanggup menampung semuanya? Percayalah, membajak itu adalah perbuatan yang melelahkan. Baik secara fisik, apalagi secara mental. Mengapa? Karena para pembajak sibuk berperang melawan nasihat nuraninya sendiri. Jika Anda terus melahirkan karya-karya terbaik Anda, tak seorang pembajak pun yang sanggup mengimbanginya. Seperti petani itu. Jika dia menanam begitu banyak pohon mangga, dia tidak akan dipusingkan oleh buah yang hilang karena diambil oleh pembajak yang kekenyangan. Maka, teruslah melahirkan karya-karya terbaik Anda.

5.      Perluaslah wilayah pergaulan Anda. Salah satu sebab mengapa para pembajak itu berhasil mengambil alih peran Anda, mungkin karena mereka memiliki wilayah pergaulan yang lebih luas dari Anda. Misalnya, dia lebih pandai berinteraksi dengan para pengambil keputusan. Anda hanya bisa ‘say hello’ dan tidak memiliki akses yang bermakna kesana. Bisa juga mereka memiliki komunitas potensial, sementara Anda masih berkutat dalam kubikal kecil dengan kapasitas dan otoritas terbatas. Jadi, jangan terlalu sakit hati jika mereka memiliki kekuatan yang lebih besar dari Anda. Ingatlah, gagasan brilian Anda itu tidak lebih dari sekedar produk. Dan, dalam era komunikasi seperti saat ini, yang akan menjadi pemenang bukanlah pembuat produk. Melainkan orang-orang yang paling mampu mempublikasikan atau menyosialisasikan produk itu. Misalnya, sepatu yang saat ini Anda kenakan. Anda kan tidak peduli pada pabrik yang membuatnya. Anda lebih ingat pada toko dimana Anda membelinya. Memangnya Anda mau mikirin siapa yang mendisain tas yang Anda pakai itu? Ya tidaklah. Anda hanya peduli pada brand-nya dan…. siapa orang yang bisa menjualnya dengan harga yang paling indah. Begitu juga dengan gagasan dan ide briliyan Anda di kantor. Belajarlah untuk masuk ke wilayah berotoritas lebih besar. Your idea is your brain product. Don’t just make it. Make people know that you are the originator. Caranya? Perluaslah wilayah pergaulan Anda.

Jika Anda merasa pernah diperlakukan secara tidak fair oleh orang-orang yang membajak gagasan Anda di kantor, maka tenang saja; Anda tidak sendirian. Apapun yang dilakukan oleh sang pembajak tidak akan banyak berpengaruh, jika Anda sendiri tidak membiarkannya mempengaruhi diri Anda. Bahkan, kita berkali-kali melihat orang-orang yang kehilangan kredibilitas pribadinya karena ketahuan telah membajak hasil karya orang lain. Professor yang dicopot gelar guru besarnya karena ketahuan menjiplak artikel orang lain. Doktor yang dicabut ijazahnya, karena terbukti mengklaim data penelitian ilmiah orang lain. Manager yang dibebas tugaskan karena kepergok menyerobot ide koleganya. Banyak. Sungguh, para pembajak itulah yang perlu dikasihani, bukan diri Anda.  Mengapa? Karena sekali reputasinya jatuh, sangat sulit untuk memperbaikinya lagi. Sedangkan Anda? Sekali dibajak, masih sanggup melahirkan ribuan hasil karya terbaik lainnya. So, masih adakah rasa khawatir
hasil karya Anda dibajak dan diklaim oleh orang lain? Sudah tidak perlu begitu lagi. Jadi? Teruslah berkarya, ok.



Catatan Kaki:
Orang lain bisa saja berhasil mengambil apapun dari kepemilikan kita, tapi percayalah; mereka tidak akan mampu mengambil jatah pahala kita.  

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahalanya Anda dapat secara penuh.

Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di  Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.

ditulis oleh: Dadang Kadarusman

Ikut Campur Atau Kontrol Sosial?


Ikut Campur Atau Kontrol Sosial? - Mencampuri urusan orang lain bukanlah perilaku yang baik. Tetapi, membiarkan orang lain melakukan sesuatu sesuka hati juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.  Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang bisa memusuhi orang lain hanya gara-gara merasa urusannya dicampuri. Dan, tidak sedikit peristiwa buruk terjadi karena orang tidak saling peduli. Di kantor, ada orang yang marah kepada temannya hanya karena dia ditegur;”ingat, itu telepon kantor…jangan dipake pacaran melulu..”. Ada juga orang yang akhirnya dipecat setelah teman-temannya tidak mau peduli meski mereka tahu dia suka melakukan tindakan keliru. Maka dari itu, kita mesti bisa menjalankan fungsi sosial tanpa harus ikut campur urusan orang lain.

Saya baru kembali dari luar kota ketika mendapati meja kerja saya sudah terlihat rapi dan bersih. Meski menyukai kerapian dan kebersihan, tetapi saya tidak suka pada apa yang terjadi dengan meja kerja itu. Selama berhari-hari saya masih harus mencari kertas dan catatan-catatan kecil berisi memo penting. Menyusun ulang buku-buku, dan mengembalikan folder dan binder pada tempatnya. Pembantu rumah tangga (PRT) kami baru bekerja satu hari. Dan pada hari pertama kerjanya itulah dia melihat ada yang ‘salah’ dengan meja kerja saya. Maka dengan inisiatif dan niat baik, dia ‘merapikan’ meja kerja saya seperti yang ‘semestinya’. Karena saya dan istri tidak tahu, maka dia melakukannya dengan sempurna. Saya sungguh tidak menyukai hal itu, tetapi sadar jika dia melakukannya dengan tujuan yang baik. Sebagai imbalannya, saya mendapatkan sebuah penyadaran diri. Ternyata, selama ini kita sering mengira hidup orang lain berantakan sehingga perlu kita ‘rapikan’. PRT baru kami menyadarkan saya bahwa ternyata, hal itu tidak selamanya benar. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memandang meja orang lain secara lebih baik, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 kesadaran Natural Intellligence berikut ini:

1.Setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing. Meja kerja merupakan wilayah yang sangat pribadi dan nyaris merupakan duplikasi jiwa seseorang. Coba tanyakan kepada teman-teman lain; “Apakah Anda lebih suka membereskan meja kerja sendiri, atau orang lain yang melakukannya untuk Anda?”. Mengejutkan sekali. Sebagian besar orang yang saya tanya, ternyata tidak suka ada orang yang membereskan meja kerjanya. Bahkan ada yang berprinsip; ’Never, never, never touch my desk!’ Darah bisa naik ke ubun-ubun jika seseorang nekat melakukannya. Ini adalah gambaran nyata bahwa setiap orang memiliki history dan story masing-masing dengan wilayah pribadinya. Maka belajar memahami sudut pandang orang lain menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan. Coba ingat kembali tindakan-tindakan yang sudah Anda lakukan dengan benar namun dinilai aneh oleh orang lain. Bagi Anda, itu bukan hal yang aneh karena memang itulah yang seharusnya Anda lakukan. Sama halnya ketika orang lain melakukan sesuatu yang Anda anggap ’aneh’. Kita hanya akan menilainya aneh ketika kita tidak melihat dari sudut pandang yang sama. Namun, jika kita memahaminya, maka kita akan berkata;”Ooh, begitu toh....” Makanya, kita perlu memiliki kesadaran bahwa setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing.

2.Perbedaan persepsi bisa dijembatani dengan komunikasi.  Sebagai konsekuensi dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki sudut pandangnya masing-masing, maka kita membutuhkan jembatan untuk menghubungkannya. Nama jembatan itu adalah ‘komunikasi’. Kita tidak lagi bisa membereskan ‘meja’ orang lain menurut apa yang kita kira seharusnya meja itu seperti apa tanpa memahami latar belakangnya. Di kantor-kantor banyak kejadian dimana atasan langsung menghukum anak buahnya yang melakukan kesalahan, tanpa memahami latar belakangnya. Atau sebaliknya, banyak bawahan tidak memahami mengapa atasannya menuntut mereka segera menyelesaikan tugas-tugasnya. Walhasil, atasan menilai anak buahnya tidak kompeten dan lemah disiplin. Sedangkan bawahan menilai atasannya sebagai seorang penuntut dan otoriter. Saat menjadi bawahan, saya tidak pernah melakukan kesalahan yang memang sengaja saya buat untuk menyia-nyiakan amanah. Ketika menjadi atasan, saya tidak pernah menyalahgunakan wewenang untuk menindas bawahan. Apakah itu karena atasan saya sering tidak memahami bawahannya? Bukan. Atau, bawahan saya sering tidak mengerti atasannya? Tidak juga. Masalah sesungguhnya adalah; “Saya tidak benar-benar ‘saling’ memahami dengan atasan dan bawahan saya.”  Dan itu, pasti disebabkan oleh lemahnya kualitas komunikasi.

3.Rapikan mejamu terlebih dahulu. Mudah melihat meja orang lain, tapi tidak segampang itu saat kita melihat meja kita sendiri. Ada kejadian menarik. Seseorang mendatangi meja orang lain, lalu menyampaikan ’petuah’ tentang bagaimana seharusnya sebuah meja ditampilkan. Pada saat kejadian itu berlangsung, mejanya sendiri memang ’sedang bersih’. Tetapi, pada kesempatan lain, meja beliau sendiri yang ditinggalkan berantakan. Sedangkan meja orang yang pernah dikritiknya sudah terbiasa bersih seperti yang dulu pernah diajarkan oleh beliau. Orang yang pernah dikritiknya bertanya; ’Apakah meja saya sudah seperti yang Bapak nasihatkan?”. Dia menjawab; ”Oh ya. Nah seperti itu kan bagus...” Beliau berkata sambil tetap membiarkan mejanya sendiri berantakan. Apakah ini kisah rekaan belaka? Silakan timbang-timbang sendiri saja. Faktanya, kita sering tergoda menyarankan orang lain untuk membenahi hidupnya. Namun, lupa untuk membereskan hidup kita sendiri. Padahal, memang meja itu tidak bisa selamanya rapi. Dia pasti berantakan saat kita tengah bekerja keras. Hidup kita juga tidak selamanya beres. Ada kalanya semerawut juga. Tetapi, jika kita terus berusaha tanpa henti untuk membereskannya, maka paling tidak; orang juga tahu kalau kita terus berusaha untuk merapikan meja kita sendiri.

4.Estetika itu penting, dan fungsi lebih penting. Silakan tanya kepada orang yang Anda nilai mejanya berantakan; ‘Apakah Anda tidak menyukai kerapian?’ Tak seorang pun yang tidak menyukai kerapian. Tetapi, bagi sebagian orang hal itu bukanlah prioritas. Yang terbaik memang ketika kita bisa memiliki kerapihan dengan tetap menjaga fungsi pentingnya tetap berjalan. Tapi, kita tidak selamanya berada pada kondisi ideal seperti itu. Makanya, ada orang yang penampilannya sangat menawan, namun keterampilan kerjanya sekedar biasa-biasa saja. Atau sebaliknya. Dan, ada juga orang yang baik penampilan maupun keterampilannya sungguh sangat mengagumkan. Namun, jika Anda baru bisa memenuhi salah satu kriterianya, mana yang akan Anda dahulukan? Penampilan? Ataukah peran yang bisa Anda mainkan? Pilihan Anda bisa jadi berbeda dengan orang lain. Tapi apapun itu, kita perlu ingat bahwa dalam kebanyakan situasi; fungsi sering lebih penting dari penampilan. Setelah itu penampilan bisa menyusul kemudian. Sebagian besar jenis pekerjaan menuntut kita untuk mendahulukan fungsi atau peran daripada penampilan. Meskipun mungkin ada case-case tertentu yang sebaliknya, namun begitulah lazimnya. Maka, ada baiknya jika kita memulai dengan mendahulukan kemampuan kita dalam memainkan peran atau fungsi yang signifikan. Setelah itu perlahan-lahan memperbaiki penampilan. Supaya kita bisa menjadi pribadi yang benar-benar komplit.

5.Sama-sama mengindahkan norma umum. Kita boleh saja menerapkan standar nilai pribadi. Kita juga bisa saja menghormati satandar nilai orang lain. Tetapi, jika segala hal harus dipandang dengan cara seperti itu, ada kecenderungan manusia bertindak semaunya saja. Hilang system kontrol sosial jika demikian. Dan kondisi seperti itu bisa sangat membahayakan. Bayangkan, jika dengan dalih saling menghargai kita membebaskan orang lain melakukan apapun, atau menuntut orang lain untuk tidak usil pada apa yang kita lakukan. Pasti dunia ini hancur lebih cepat dari seharusnya. Maka dari itu, kita perlu mengindahkan etika dan norma umum. Betapapun berantakannya meja kita, tidak boleh sampai merusak pemandangan sekantor. Betapapun suka-suka kita dengan perilaku bebas, tidak boleh melanggar etika dan norma umum. Karena kita tidak selamanya menyadari jika telah melakukan hal-hal secara berlebihan, maka kita butuh orang lain untuk mengingatkan. Sebaliknya, orang lain juga butuh kita untuk selalu memastikan segalanya berjalan seperti semestinya. Walhasil, kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang saling mengingatkan dalam kebaikan, dan mencegah dari keburukan.

Jika kita hanya hidup sendirian, maka kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan. Silakan. Kenyataannya, kita berada dalam dunia yang membutuhkan kesediaan untuk berbagi ruang dengan orang lain. Meski kita merdeka untuk berbuat dan berekspresi sesuka hati, tapi kita juga bertanggungjawab untuk memastikan apa yang kita lakukan tetap mengindahkan kepentingan orang lain. Jika kita menyadari dan berkomitmen dengan itu, maka barulah kita bisa menciptakan hubungan dalam harmoni. Ini berlaku dalam kehidupan kita di kantor, di rumah, dan komunitas manapun juga. So, mari kita sama-sama belajar untuk merapikan meja kehidupan kita sendiri, dan saling mengingatkan dengan orang lain.



Catatan Kaki:
Karena tidak ada manusia yang sempurna, maka kita semua membutuhkan kehadiran orang lain untuk mencapai kesempurnaan.

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahalanya Anda dapat secara penuh.


ditulis oleh: dadang kadarusman

Sebelum Segalanya Serba Terlambat


Kita mengenal istilah ini; ’setinggi-tingginya bangau terbang, pasti kembali ke sarang.’ Makna pepatah itu bukanlah soal fisik belaka, melainkan soal tata nilai. Kita selalu percaya bahwa setiap orang yang pergi tentu akan ingat pulang. Kita juga pecaya bahwa setiap orang yang melakukan langkah yang salah selalu memiliki kesempatan untuk berubah dan kembali memperbaiki diri. Termasuk orang-orang yang terpenjara dalam kebiasaan yang buruk. Kita percaya bahwa mereka, mempunyai kesempatan untuk insyaf dan bertaubat. Lalu kembali mengadopsi kebiasaan baik. Tetapi kita juga punya istilah ini; ’sudah terlanjur basah, ya nyebur saja sekalian’. Mereka yang suka istilah asing menyebutnya ’the point of no return’ yaitu titik, dimana kita tidak bisa kembali. Dengan idiom itu, kita diingatkan untuk segera memperbaiki diri selagi masih ada kesempatan untuk melakukannya.

Langit terik tiba-tiba berubah menjadi gelap. Hujan lebat disertai angin dan guntur turun tak lama kemudian. Ketika hujan reda, kami pun kembali meneruskan perjalanan. Di jalur utama terlihat deretan panjang kendaraan. Untungnya saya tahu ’jalur rahasia’ untuk memotong jalan. Maka saya pun membelokkan kendaraan melintasi jalan yang tidak banyak diketahui orang. Sungguh nyaman ada di jalur itu. Hanya sedikit kendaraan, sama sekali tidak ada kemacetan. Namun perlahan tapi pasti, permukaan jalan yang kami lintasi mulai ditutupi oleh air. Saat istri saya mengingatkan untuk kembali, saya bilang; tenang saja, semuanya masih dalam kendali. Tapi semakin melaju kedepan, genangan air ternyata semakin dalam. Saya masih tidak juga peduli. Menjelang jembatan, barulah saya sadar jika sungai meluap dan airnya membanjir hingga tidak bisa dilintasi. Sekarang, kendaraan kami terjebak diantara genangan air yang dalam di depan dan mobil lain yang sama-sama bandel di
belakang. Saya berada pada the point of no return. Maka seperti itulah juga jadinya jika kita ngotot untuk terus melakukan kebiasaan buruk. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar berbalik arah sebelum terlambat, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:


  1. Sadar diri. Belum ada kekuatan yang bisa mendorong seseorang melakukan sesuatu secara suka rela dan suka cita selain kesadaran yang datang dari diri sendiri. Dengan kesadaran diri, dia tidak perlu dipaksa oleh siapapun atau apapun. Sebaliknya, sangat sulit mengharapkan perubahan perilaku dari orang-orang yang tidak memiliki kesadaran diri. Jika Anda ingin memaksa seseorang untuk meninggalkan kebiasaan buruk bisa saja. Tetapi, apakah orang itu senang atas paksaan Anda atau tidak? Bisa jadi dihadapan Anda orang itu tidak melakukannya. Tapi dibelakang? Itu tidak hanya berlaku bagi orang lain, karena kita pun akan bersikap demikian jika tidak memiliki kesadaran yang datang dari dalam diri kita sendiri. Anda tidak akan bisa menikmati proses  meninggalkan kebiasaan buruk dibawah paksaan atasan, orang tua, suami atau istri atau siapapun. Karena sekujur tubuh Anda hanya tunduk patuh kepada perintah diri Anda sendiri. Jika Anda tidak dengan sukarela melakukannya, maka tubuh Anda akan menolaknya. Segala sesuatunya hanya akan dilakukan dalam keterpaksaan. Hal ini berlaku di kantor, di rumah, dan di lingkungan manapun yang Anda tinggali. So, milikilah kesadaran diri. Karena hanya dengan kesadaran itulah Anda akan bisa menikmati prosesnya.
  2. Kontrol diri. Setiap perilaku dan perbuatan buruk yang sudah memberikan kenikmatan memiliki efek adiktif. Kita terdorong untuk melakukannya lagi dan lagi. Tentu kita masih ingat efeknya jika seseorang sudah mengalami ketagihan. Dia bisa mengabaikan segala-galanya hanya untuk mendapatkan kenikmatan yang sama. Kita sudah merasa enak, nyaman dan kerasan dengan segala kenikmatannya. Kalau sudah begitu, kita tidak lagi peduli jika hal itu melanggar norma, merugikan orang lain, bahkan mengabaikan kesusilaan. Kita menyebutnya sebagai keadaan ‘lepas kontrol’. Dalam keadaan lepas kontrol, dia tidak lagi memiliki kendali atas hidupnya. Tidak lagi tertarik untuk mengindahkan aturan. Bahkan mengabaikan keyakinan yang pernah dipegang teguhnya. Hanya dengan kontrol diri itu kita bisa mengatasinya. Kontrol diri itu teori. Kongkritnya bagaimana? Sederhana. Satu kata saja, yaitu BERHENTI. Sama seperti saat Anda sedang berkendara. Untuk bisa berbalik arah, Anda harus terlebih dahulu berhenti, meski hanya dalam hitungan sepersekian detik. Dengan ‘berhenti’ itu Anda memiliki momentum untuk mengganti gigi, memutar setir, maju dan mundur, lalu melaju lagi dengan arah yang 180 derajat berbeda dari sebelumnya. 
  3. Komitmen diri. Ketika hendak menghentikan suatu kebiasaan buruk, sisi baik dan sisi buruk didalam diri kita saling berebut pengaruh. Sebenarnya sisi baik dan sisi buruk itu memiliki kekuatan yang sama. Tetapi, setiap kebiasaan menghasilkan pengalaman fisikal dan emosional yang membekas didalam diri kita. Jika kita hendak menghentikan kebiasaan buruk, maka pengalaman fisik dan emosi itu menjadi referensi penting bagi sisi buruk untuk mengalahkan sisi baik. “Seperti biasanya, dengan melakukan itu kita mendapatkan kenikmatan,”  begitu kata sisi buruk. Sekujur tubuh kita akan mengamini karena memiliki pengalaman nyata atas apa yang dikatakan sang sisi buruk. Sedangkan argumentasi normatif sisi baik sering digoyahkah oleh resistensi kita terhadap perubahan. “Kalau tidak begitu lagi, nanti kerja kita lebih berat. Nanti uang kita berkurang. Nanti kenikmatan kita hilang.….” Makanya, untuk bisa membuat sisi baik menang, kita perlu mendukungnya dengan komitmen. Hanya orang-orang yang memiliki komitmen tinggi saja yang sanggup melawan bisikan dan rayuan sisi buruk. Lalu mendengarkan nasihat sang sisi baik. Bersedia mengorbankan kenikmatan sementara, dan bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
  4. Konsistensi diri. Orang bilang, menjadi orang baik di zaman ini bukan perkara gampang. Kelihatannya ada benarnya juga memang. Khususnya, jika lingkungan pergaulan kita terdiri dari orang-orang yang memiliki kebiasaan buruk yang hendak kita tinggalkan itu. Mereka tidak membiarkan kita berhenti begitu saja sehingga  rayuan untuk balik lagi tidak akan pernah surut menggoda kita. Makanya, kita sering melihat orang-orang insyaf sebentar lalu kembali lagi kepada kebiasaan lamanya yang buruk. Kita pun tidak akan pernah kehilangan alasan untuk melakukan itu lagi. “Tahu rasa lu susah sendiri tuh. Makanya, elu jangan coba-coba sok suci….” Merasakan betapa perihnya usaha untuk keluar dari kebiasaan buruk itu, sering ingin membuat kita berhenti lalu menyerah saja. Hey, ingatlah; mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik itu mungkin berat. Tapi kesulitan itu timbul karena kita belum menjadikan perilaku baik itu menjadi sebuah kebiasaan. Alah bisa karena biasa. Kalau kita sudah biasa melakukannya, maka pasti kita juga tidak akan merasakan pedih perihnya lagi. Nanti, kita juga akan terbiasa berperilaku baik. Tanpa paksaan. Dan kita, hanya akan bisa membangun kebiasaan baru yang lebih baik itu jika kita melakukannya secara konsisten. Karena dengan konsistensi, kita melakukannya secara terus menerus hingga sekujur tubuh kita mengadopsinya menjadi sebuah kebiasaan yang baru.  
  5. Mawas diri. Kita ini siapa sih? Kita ini mahluk yang lebih mulia dari binatang. Jika binatang mati, maka selesailah semua urusannya. Tapi jika kita mati, apakah urusannya bisa menghilang begitu saja? Untuk urusan duniawi, memang bisa hilang dengan kematian. Vonis hakim di pengadilan pun tidak bisa menjangkau orang mati. Semua urusan dunia dianggap sudah selesai. Tetapi, hati-hati. Saat kita mati. Apakah nanti. Kita bisa lari. Dan sembunyi. Dari tatapan mata Ilahi? Apakah Anda berani untuk berhadapan dengan Sang Maha Adil. Lalu berdiri tegak mempertanggungjawabkan semua perbuatan buruk yang semasa hidup Anda lakukan? Kelihaian kita dalam bersilat lidah. Kekuatan pengaruh uang dan jabatan yang kita sandang. Kekompakan koneksi  dan pengacara yang membela kita. Apakah cukup untuk memutarbalikkan dakwaan yang dicatat oleh malaikat dalam buku kehidupan pribadi setiap insan? Terlalu beresiko jika kita menyombongkan diri dihadapanNya. Sekarang mungkin kita bisa sombong. Tetapi nanti, kesombongan itu sama sekali tidak memiliki arti. Makanya, kita perlu mawas diri. Bahwa hidup kita tidaklah abadi. Dan mawas diri itu hanya akan berarti jika kita memilikinya sebelum mati. 


Banyak orang yang sudah sejak lama ingin menghentikan kebiasaan buruknya. Namun, tidak pernah memulainya dengan tindakan nyata. Mereka terus saja melakukannya, sampai akhirnya ‘tertangkap basah’. Tangis dan sesal tidak lagi memiliki makna apa-apa jika terlanjur ‘ketahuan’. Apalagi kalau sudah sampai diperkarakan. Semuanya sudah serba terlambat. Jika kita hanya bersedia berhenti kalau sudah ketahuan, maka ketahuilah bahwa; Tuhan sudah sejak lama mengetahui semua perilaku buruk yang kita lakukan. Jadi, ini adalah saat yang tepat untuk memutar arah. Mumpung masih ada kesempatan.


Catatan Kaki:
Selama memiliki kesungguhan hati untuk bertaubat, maka pintu maaf selalu terbuka lebar untuk kita.  Tetapi, akan ada saatnya pintu itu terkunci dan tidak bisa dibuka lagi.

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

ditulis oleh:
Follow DK on Twitter @dangkadarusman