31 August 2013

Mentalitas Merasa

Mentalitas "Merasa" (Menyikapi Kebijakan Syaikh Azhar dan Syaikh Ali Gum'ah) By: Nandang Burhanudin *****

Pernahkah kita dikejutkan anak usia tanggung yang memacu motor dengan suara kencang dan kecepatan tinggi? Seakan jika motornya Yamaha, ia "merasa" seperti Valentino Rossi, Lorenzo. Atau jika motornya Honda, ia "merasa" seperti Dani Pedrosa atau Bradly Smith. Juga kita pernah melihat orang yang mengenakan kacamata hitam, ia seakan merasa seperti artis papan atas dunia. Jika badannya berotot, ia "merasa" seperti Arnold Schwarzenegger. Pun jika hidung mancung kulit bersih, sudah bertingkah seperti Ayu Azhari, Bella Saphira. Plus kalau bisa menari berjingkrak, sudah "merasa" seperti Agnes Monica. Dalam kajian ilmu pun demikian. Baru membaca satu judul buku karya seorang Imam Madzhab. Ia telah "merasa" sebagai ahli waris ilmunya. Ketika ia pergi ke suatu kampus, Al-Azhar misalnya, ia sudah merasa sebagai Azhari. Ketika baru hadir satu dua kali muhadhoroh (penyampaian kuliah) seorang Syaikh-Profesor-Mufti, maka kita "sudah merasa" seperti anak emas sang Syaikh. Gejala "merasa" tak lepas dari penyakit narsisme. Yaitu gangguan kepribadian dan gangguan mental yang tidak mudah diobati. Ia akan membuat siapapun kehilangan objektivitasnya, malah yang menonjol fanatisme terhadap orang yang ia sukai. Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, bilang ada lima penyebab kemunculan narsis, yaitu; 1. adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, 2. kurang bisa berempati sama orang lain, 3. sulit memberikan kasih sayang, 4. belum punya kontrol moral yang kuat, 5. dan kurang rasional. Kasus kudeta militer terhadap Presiden Moursi di Mesir, sikap Syaikh Al-Azhar, fatwa aneh mantan Mufti Mesir Syaikh Ali Gum'ah dkk, membuat semua pendukung "merasa" bagian tak terpisahkan. Bagi pendukung Moursi, sikap Syaikh Al-Azhar, mantan mufti adalah sikap yang di luar "kewajaran." Maka muncullah tulisan-tulisan yang "menohok" kepribadian dan asal-usul para pemimpin ulama Islam tersebut. Sikap proMoursi ini dibalas dengan bahasa yang kurang lebih sama. Ada santri yang "merasa" berhak membela dan pasang badan. Ada juga yang membuka konfrontasi dan menganggap tindakan Syaikh Al-Azhar dan mantan Mufti sudah benar, justru Ikhwan dan proMoursi yang salah. Ujung-ujungnya adalah; hilangnya rasionalitas dan objektivitas dalam menilai orang dan keadaan. Bagi saya, Grand Syaikh Al-Azhar, siapapun orangnya dan siapapun yang memilihnya, merupakan guru. Demikian juga dengan Mufti Ali Gum'ah. Namun saat ada sikap yang "membiarkan" terjadinya pembantaian, maka cukup mengatakan: Hasbunallaahu wani'mal Wakiil Ni'mal Maulaa wani'man Nashiir. Teriring doa, semoga Allah mengampuni beliau-beliau dan kita semua atas pandangan politik yang sengaja atau tidak sengaja, "menyemangati" pelaku pembantaian. Bagi saya, Presiden Moursi dan organisasi Ikhwanul Muslimin juga adalah guru. Pasti ada kebijakan beliau dan organisasi selama menjadi presiden yang tidak mampu menyenangkan banyak pihak. Namun ketika solusi "pelengserannya" tidak menggunakan nalar rasionalitas dan objektivitas, serta lebih memilih jalur militer, di sini saya mengatakan Hasbunallaahu wani'mal Wakiil Ni'mal Maulaa wani'man Nashiir. Sebab ternyata, intisari dari ilmu adalah bukan like and dislike. Tapi bagaimana kita bisa memaknai ilmu untuk kemudian dijadikan pedoman dalam penilaian maupun implementasinya di lapangan. Jujur waktu kuliah di Al-Azhar, Grand Syaikh Al-Azhar M. Sayyid Thanthawi pernah beberapa kali menjadi dosen. Jujur juga, dari apa yang beliau sampaikan, saya tidak mampu menyerap 30 % dari materi yang disampaikan dan sejauhmana pemikiran beliau. Oleh karena itu, saat ramai kasus fatwa tentang Intifadhah Palestina, masalah cadar, saya lebih memilih "diam" dan mengembalikan kepada Allah segala sesuatunya. Sebagai mahasiswa asing yang ada di Mesir, semua sadar dan menyadari, bahwa hanya sedikit mahasiswa/i saja yang rajin hadir datang kuliah. Sisanya, terlelap dalam tidur dan tersedot untuk internet. Maka sikap kita terhadap Grand Syaikh Al-Azhar dan Syaikh Ali Gumu'ah adalah tawaqquf. Tidak menyerang dan juga tidak mendukung, terutama bila berkaitan dengan pelanggaran nilai-nilai humanisme (insaniyyah). Mungkin lebih baik sedikit tahu diri, bahwa kita bagian dari yang jarang hadir di kuliah. Jika pun hadir, belum tentu memahami betul alur pemikiran dan keadaan sebenarnya yang dialami kedua syaikh tadi. Sedikit bagian dari rasionalitas dan objektvitas, hal yang mungkin adalah: kita menyayangkan tanpa harus menebar cacian. Toch para syuhada Ikhwanul Muslimin, saya yakin telah mendapatkan tempat layak di sisi Allah Ta'ala. Sedangkan para masyayikh yang masih hidup pun, masih terbuka kemungkinan untuk menyadari kekeliruan. Wallahu A'lam

No comments:
Write komentar

thanks for your comment on 4Fatih