WHAT'S NEW?
Loading...
Negeri yang Menua
Mohammad Fauzil Adhim,
26 September 2017
Pertama kali ke Jepang tahun 2005, gambaran tentang pendidikan di Jepang adalah model yang sangat memperhatikan pembentukan adab pada diri anak. Kesantunan serta sikap hormat mereka sudah sangat masyhur, baik terhadap guru maupun orangtua. Jangankan yang belajar di Jepang sejak usia playgroup maupun SD hingga SMA, mereka yang kuliah di Jepang semenjak S-1 pun akan membekas pada dirinya dua sifat yang cenderung kuat: rendah hati dan menghormati senior, termasuk guru dan orangtua.
Zaman berganti masa bertukar. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Jepang lagi beberapa tahun silam, kuat terasa anak-anak muda yang cenderung meniru habis gaya Amerika, bahkan boleh jadi melebihi yang ditiru. Ini terasa betul pada anak-anak muda. Beriringan dengan itu, kian banyak perempuan yang enggan menikah dan pasangan suami-istri yang malas punya anak. Mengapa? Membesarkan anak merupakan investasi yang besar dan berat, terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan, tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di masa tua. Mereka pun lebih memilih memelihara anjing atau hewan piaraan lain daripada mengurusi anak.
Keengganan mengurusi anak membawa dampak serius bagi masa depan demografis Jepang. Gejala yang sebenarnya sudah lama berlangsung ini mulai membawa dampak serius. Yubari yang terletak di sub-prefecture Sorachi di prefecture Hokkaido, Jepang mengumumkan kebangkrutan pada tahun 2006. Padahal sebelumnya, Yubari yang terkenal sebagai penghasil melon terbaik ini dulunya merupakan municipal, kota swadana yang sangat diperhitungkan. Di Yubari terdapat tambang batubara.
Terakhir kali ada yang melahirkan di Yubari, menurut catatan, tahun 2007. Selama 10 tahun hingga sekarang ini tak ada lagi catatan kelahiran di kota tersebut. Jika tahun 1960 jumlah penduduk 120.000 jiwa, maka tahun 2014 tersisa 10% saja. Penduduk tinggal 12 ribu jiwa yang sebagian besar manula. Tahun 2016 atau hanya dalam waktu 2 tahun, penduduk Yubari berkurang secara alamiah sebesar 25% sehingga yang tersisa hanya 9 ribu orang. Penjualan popok untuk lansia pun meningkat, melebihi penjualan popok untuk anak.
Diperkirakan ada 896 kota (towns and cities) yang akan menyusul nasib Yubari. Sekali lagi, bukan karena peperangan, tetapi karena tidak ada proses regenerasi yang memadai. Angka kecukupan minimal untuk bertahannya sebuah peradaban adalah pertumbuhan penduduk minimal 2.1 di tiap keluarga.
***
Pemerintah Jepang agaknya sangat menyadari hal ini. Ada perhatian cukup besar terhadap keluarga yang mau mempunyai anak. Bukan warga negara Jepang pun mendapatkan santunan jika melahirkan di Jepang. Tetapi pada saat yang sama, ada kebijakan yang agaknya membuat para orangtua semakin enggan punya anak dan mengurusinya. Alih-alih menguatkan posisi orangtua, Jepang justru mengeluarkan kebijakan hankouki yang sekarang bahkan ke tingkat SD. Apa itu hankouki? Hak melawan orangtua. Jika sebelumnya hankouki diberikan kepada anak yang sudah memasuki usia matang, 18 tahun, sekarang bahkan sudah diberikan kepada anak SD di kelas akhir. Maka apalagi alasan yang dapat menguatkan alasan mereka untuk mempunyai anak jika orangtua semakin tak punya kewenangan terhadap anaknya sendiri? Maksudnya menguatkan generasi penerus, agaknya justru bisa berakibat generasi penerusnya itu sendiri yang kian sedikit.
Mudah ditebak, melemahnya kewenangan orangtua dapat berakibat melemahnya sikap-sikap utama yang proses penanamannya memerlukan usaha yang keras. Jika beriring dengan orientasi bersenang-senang yang bertambah besar, besar kemungkinan anak-anak muda akan segera kehilangan etos kerja. Mereka enggan bekerja keras, terlebih di sektor "kasar", meskipun mereka lahir dan tumbuh di lingkungan yang menghargai kerja keras.
***
Melemahnya adab, keengganan mempunyai anak karena nilai ekonominya rendah, dan terputusnya generasi adalah sebagian dari tanda-tanda negeri yang sedang memasuki usia senja. Selama saya berada di Nagoya, rasanya lansia semakin banyak. Tetapi mungkin saja saya salah karena hanya melihat sepintas. Meskipun demikian, kombini (convenient store) yang banyak dilayani oleh pramuniaga "berumur" agaknya sedang mengabarkan sesuatu.
Boleh jadi proyeksi demografis yang memperkirakan tahun 2050 Jepang akan memiliki angka ketergantungan (dependent ratio) sebesar 96% benar adanya. Artinya, di tahun itu jumlah penduduk lansia yang memerlukan bantuan serta anak di bawah umur mencapai angka 96%.
Satu hal, melihat berbagai fenomena yang ada semakin meyakinkan bahwa sejauh apa pun kita berpikir jika terlepas dari wahyu, pada saatnya akan membinasakan meskipun tampak benar.
Wallahu a'lam bish-shawab.
***
*Mari Berdoa *
اَللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي، وَأَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي، وَاغْفِرْ لِي
Allaahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a'thoitanii, wa athil hayaatii 'alaa thoo'atik, wa ahsin 'amalii, wagh-fir lii.
Ya Allah, perbanyaklah harta dan anakku, serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan kepada-Mu, dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku.
(HR. Bukhari no. 6334)
Aamiin

Perbedaan mahdzab, pemahaman, beda harokah adalah hal biasa, bagaimana memecahkan perbedaan tersebut mari kita simak bagaimana seorang syeh memberikan logika sederhananya

Hasan Al-Banna punya sebuah majelis taklim. Majelis ilmu itu dilaksanakan di sebuah masjid pada malam hari. Jama'ah. pengajian itu semakin hari semakin membludak saja. Maklum, tutur kata ustadz muda itu begitu menyentuh jiwa.

Suatu hari, Hasan Al-Banna merasakan adanya nuansa aneh di majelis taklimnya. Jama'ah pengajiannya duduk berkelompok. Ada dua kelompok besar. Masing-masing mengambil jarak.

Sebelum lagi Hasan Al-Banna memulai acara taklimnya, tiba-tiba sebuah pertanyaan mengejutkannya. Sebenarnya nada pertanyaan itu datar saja, tapi hati Hasan Al-Banna yang begitu peka menangkap sebuah pesan yang besar dalam pertanyaan itu.

"Bagaimana pendapat ustadz mengenai tawassul?" Sang guru yang ditanya terdiam sejenak. Ditatapnya si penanya. Disapunya satu per satu hadirin yang menatapnya dengan raut wajah menunggu.

"Wahai saudaraku," sapa Hasan Al-Banna jernih kepada si penanya. "Saya yakin engkau tidak hanya bertanya tentang tawasul saja. Engkau juga ingin bertanya tentang membaca salawat setelah azan, membaca Al Kahfi di hari Jumat, mengucap kata sayyidina dalam tasyahud, juga tentang membaca Alquran yang pahalanya ditujukan untuk mayit seseorang."

Jama'ah majelis taklim itu kaget. Guru mereka bisa membaca isi pikiran mereka. Dan Hasan Al-Banna memang sengaja mengungkap beberapa masalah khilafiyah yang sedang mereka ributkan. Masalah itulah yang membuat murid-muridnya duduk berkelompok-kelompok.

"Ya, benar. Saya memang ingin jawaban tentang itu semua," ujar si penanya tadi. Hasan Al-Banna menatapnya lembut. "Wahai saudaraku, saya ini bukan ulama. Hanya guru biasa yang hafal sebagian ayat-ayat Alquran, hadits, dan hukum-hukum agama yang saya baca dari beberapa kitab, lalu saya mengajarkannya kepada kalian. Jika engkau membawaku keluar dari lingkup itu, berarti kalian telah membuatku mengalami kesulitan," ungkap Hasan Al-Banna jujur.

"Oleh karenanya, jika apa yang akan saya katakan dapat memuaskanmu, itulah yang saya inginkan dan silakan mendengarkan. Namun, jika engkau menginginkan jawaban dan pengetahuan yang lebih luas, maka tanyakanlah kepada selainku. Tanyakan kepada para ulama yang ahli. Merekalah yang mampu memberikan fatwa kepadamu mengenai apa yang engkau inginkan itu. Adapun saya, hanya inilah kapasitas keilmuan yang saya miliki. Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sebatas kesanggupannya," lanjut Hasan Al-Banna.
Rupanya, ungkapan merendah Hasan Al-Banna itu berhasil mencairkan suasana kaku yang tercipta di antara hadirin. Mereka tampak lega dengan apa yang dikatakan guru mereka.
Melihatnya, diam-diam Hasan Al-Banna bertahmid kepada Allah swt. Nalurinya sebagai pendidik tergugah. Ini saat yang tepat untuk memberi pelajaran yang lebih kepada murid-muridnya.

"Wahai saudaraku sekalian, saya sebenarnya tahu betul kemana arah pertanyaan tadi. Kalian ingin tahu saya ini termasuk kelompok Syeikh Musa atau Syeikh Sami. Ketahuilah, hal ini sama sekali tak bermanfaat bagi kalian. Kalian sudah tenggelam dalam iklim fitnah selama selama delapan tahun ini. Itu sudah cukup, " ucap Hasan Al-Banna memecah di keheningan masjid.

"Masalah-masalah yang kalian perselisihkan sebenarnya sudah diperselisihkan oleh kaum muslimin selama ratusan tahun lamanya. Dan mereka masih saja berselisih. Meski demikian Allah swt. tetap ridha apabila kita saling mencintai dan saling menjalin persatuan. Allah swt. benci apabila kita berselisih dan berpecah belah. Oleh karena itu, saya berharap, kalian bisa berjanji kepada Allah untuk meninggalkan persoalan-persoalan semacam ini sekarang. Lalu kita bersungguh-sungguh untuk bersama-sama mempelajari dasar-dasar agama dan kaidah-kaidahnya, mengamalkan anjuran anjuran agama yang kita sepakati bersama, serta kita amalkan kewajiban-kewajiban dan sunah-sunahnya sekaligus. Kita tinggalkan sikap takalluf (mengada-ada) dan ta'ammuq (terlalu dalam menyelami persoalan) agar jiwa kita jernih. Dengan begitu, kita semua bisa mempelajari berbagai persoalan dalam naungan rasa cinta, saling percaya, persatuan, dan keikhlasan. Saya berharap agar kalian dapat menerima pendapatku ini dan agar hal ini menjadi suatu janji di antara kita," tutur Hasan Al-Banna panjang dan mendalam. Semua terdiam. Tampaknya mereka butuh contoh konkret atas uraian tadi.

Hasan Al-Banna kembali menghentak keheningan itu.

"Siapa di antara kalian yang bermazhab Hanafi?" Seseorang mengacungkan jari. "Kemari!"

"Siapa di antara kalian yang bermazhab Syafi'i?" Satu orang lagi maju, mendekat ke guru muda itu.

"Saya akan shalat dan mengimami kedua saudara kita ini," kata Al-Banna kepada jama'ah majelis taklimnya.

"Apa yang kamu lakukan saat saya sedang membaca Al-Fatihah?" tanya Hasan Al-Banna kepada muridnya yang mengaku bermazhab Hanafi. "Saya akan diam saja dan tidak membaca apa-apa."

"Saudaraku yang bermazhab Syafi'i, apa yang kamu lakukan?" "Saya tetap harus membaca AlFatihah!" jawabnya tegas. Hadirin mendengar jawaban kedua itu.

Hasan Al-Banna kembali melemparkan pertanyaan. "Jika kita telah selesai shalat, bagaimana pendapatmu, wahai saudaraku yang bermazhab Syafi'i, tentang shalat saudaramu yang bermazhab Hanafi?"

"Shalatnya batal karena tidak membaca AlFatihah yang merupakan salah satu rukun shalat."

Hasan Al-Banna melontarkan pertanyaan yang sama ke murid yang satunya lagi. "Lalu bagaimana pendapatmu, wahai saudaraku yang bermazhab Hanafi tentang shalat saudaramu yang bermazhab Syafi'i?". "Ia telah melakukan tindakan makruh yang bersifat haram."

Mendengar kedua jawaban itu, Hasan Al-Banna segera mempertajam pertanyaannya. "Apakah karena alasan itu salah seorang dari kalian mengkafirkan yang lain?" "Tidak!" jawab keduanya cepat.

Hasan Al-Banna kemudian berpaling ke seluruh hadirin. "Apakah ada di antara kalian yang mengkafirkan satu dari mereka karena bacaan Al-Fatihahnya?" .

Tidak," kata seluruh jamaah majelis taklim tegas.

"Aduhai, Maha Suci Allah. Kalian bisa diam dan memaklumi permasalahan seperti ini padahal ini menyangkut sah atau batalnya shalat. Tapi, mengapa kalian berselisih tak kunjung usai hanya karena ucapan Allahumma shalli ala Muhammad atau Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad dalam tasyahud?"

Jama'ah majelis taklim itu tercengang. Ya, mengapa mereka bisa terjebak dalam perselisihan yang tak perlu.

Dan logika sederhana guru mereka telah membongkar tempurung yang menutupi cakrawala berpikir mereka selama ini. Malam itu mereka mendapat pelajaran yang sangat berharga dari guru mereka, Hasan Al-Banna.

Copas dari Group WA Forum Akademisi Muslim yang dikutip dari berbagai sumber...

والله اعلم وبارك الله فيكم...

Daftar Gabung mudah Paytren Indonesia

Selamat datang bersama kami di Komunitas PAYTREN, yang didirikan dan langsung di Pimpin oleh Ulama Besar yaitu Ustadz YUSUF MANSUR.



Kami punya gagasan besar  untuk di wujudkan secara berjamaah yaitu:

1.  Membangun ekonomi kerakyatan
2. Menjadi pemilik perusahaan besar
3. Menjadi tuan rumah dinegeri sendiri.

Jangan beranjak dulu, silahkan di fahami  bagaimana pentingnya kita mengenal dan menjadi bagian dari mitra paytren.


Silahkan bisa di TANYAkan apapun yang berkaitan dengan paytren. WA: 0817 - 412 - 1440

Semoga Bapak/ Ibu berkenan BERGABUNG  bersama kami melalui kemitraan PayTren.

Dan dengan segala hormat, jika masih belum berkenan, Bp/Ibu bisa meninggalkan group dan TANPA meninggalkan PROMOSI dalam bentuk apapun.

Terima kasih

Sukses bisnisnya berkah hidupnya tentram hatinya ceria gaya hidupnya bersama paytren, aamiin..



PAYTREN BISNIS KEREN SEPANJANG ZAMAN



jika kurang faham, silahkan di tanyakan, terima kasih


Group whatsapp menarik ini

Yuk ajak temennya bergabung
Biar rame
Dan makin bijak menggunakan hape

Follow this link to join my WhatsApp group: https://chat.whatsapp.com/8z6KQRi3TEEJJiaK53yYe7

joint with us
Yang baru di Windows 10 di update Windows 10 Build 14328 hari ini (22 April 2016)
Windows ink didesain untuk pengunaan stylus untuk pengalaman penggunaan yang lebih nyaman. update yangdigulirkan hari ini membawa fitur Windows Ink Workspace, fitur ini bisa diakses untuk meningkatkan kinerja sticky notes, sketchpad dan screen sketch. selain itu pihak Microsoft juga menyertakan fitur penggaris yang secara bebas bisa dimanfaatkan untuk membuat bentuk dan obyek.


Pendaftaran ODOJ
di 0 8 1-741 2-1440 silahkan kirim pesan Whatsapps atau SMS

Pantun ODOJ One Day One Juz, iseng-iseng disela safar sempat menulis beberapa pantun :) semoga bermanfaat dan berkenan

Cawan dingin dari keramik
Yang begini ulun sukanya

Ikhwan ingin bidadari cantik
Jam segini quran belum dibacanya

Ups

Sepanjang jalan kulihat aspal
Ditengah2 ada putihnya

ODOJ itu bukan asal
Tp dilandasi niat kuatnya

Ea ...

Pandang pandang sambil menganga
Akhi itu bukan muhrimnya

Selayang pandang tentang surga
Dr pintu mana kau memasukinya

Ya Allah ..

Kulihat Irman berpindah kota
Bersepeda Tegar pergi sekolah

Ini fakta bukan pantun
Sekedar usil teman melamun

#MusafirEfek
@masminant on twitter

Pendaftaran ODOJ di 0 8 1 741 2 144 0 silahkan kirim pesan Whatsapps atau SMS